Showing posts with label Cinta. Show all posts
Showing posts with label Cinta. Show all posts

Tuesday, 6 August 2013

Cerpen Cinta: Darahku dan Cintamu #1

Sebelum membaca cerpen ini, alangkah baiknya para pemirsa dimanapun Anda berada sedia tisu sebelum hujan (air mata), hehehe. Selamat mencicipi kisahnya!

Aku masih menelusuri hiruk pikuk toko emas,  mataku melirik ke kiri dan kanan mencoba mengingat toko emas yang ku kunjungi dua bulan lalu untuk membuat cincin lamaranku ke Tania. Toko Sinar Emas, yah ku lihat lagi toko emas itu dan meyakinkan langkahku untuk masuk kedalamnya.
Aku tarik nafas panjang dan mengeluarkan kotak cincin emas dari saku celanaku, ingatanku kembali tertampar saat membuka kotak cincin emas buat Tania, cincin yang ku beli saat gaji pertamaku menjadi seorang pegawai negeri sipil, cincin sederhana untuk melamarnya menjadi pendampingku dan calon ibu dari anak-anakku kelak bersamanya. Namun tak pernah muncul difikiranku kalau orang yang ku cintai empat tahun lamanya menolak lamaranku hanya dengan alasan belum siap berjalan beriringan melewati rumah tangga dengan penghasilanku yang pas-pas’an. Dia seperti menampar wajahku dengan bola api kehidupan yang begitu panas membakar semua harapanku lalu dia pergi meninggalkan hatiku yang remuk dan berlenggang dengan cantiknya mencari ambisinya menjadi seorang model. Terlalu sakit saat mengingat akhir cerita dengannya dan cincin ini begitu menyesakan dadaku.  Kini aku kembali pada toko emas hanya untuk membuang semua harapan yang telah hangus terbakar rasa kecewa, dengan hati yang sangat berat ku jual kembali cincin cintaku selama empat tahun pada Koko Lim yang berbadan putih tambun lalu aku pergi secepat mungkin meninggalkan Toko Sinar Emas.
Belum cukup lima belas menit, otakku di gerogoti kenangan bersama Tania. Saat dia bilang, “Mas nanti kalau kita menikah aku ingin memiliki dua orang anak, aku mau anak pertama seorang pria dan anak kedua wanita. Saat mas libur kantor kita kita jalan ke kawah putih lalu traveling ke ke raja ampat.” Semua tawa, manja dan suaranya menggoda ingatanku dan ku putar kembali sepeda motorku menuju Toko Sinar Emas. Aku berlari secepat mungkin ke toko itu untuk mengambil kembali kenanganku yang baru ku jual, namu dadaku semakin sesak saat cincin itu sudah tidak terpajang pada etalase emas milik Koko Lim.

“Ko...Maaf cincin yang barusan aku jual itu bisa ku beli kembali?” tanyaku dengan nafas yang masih belum beraturan.
“Haiya, kamu olang ini bagaimana, balu jual sekalang mau beli lagi, cincin kamu sudah laku.” Koko Lim berbicara denganku dengan dialek aneh mengganti huruf R menjadi L.
“Kalau begitu saya minta no telepon pembelinya Ko, bisakan?? Aku mohon Ko.” pintaku dengan memelas.

Melihat wajahku yang penuh dengan raut nasib tak jelas dan aura kesedihan yang mungkin terpancar dan bisa dibaca oleh Koko Lim, dia memberiku nota karbones berisi nama dan no handphone pembeli cincin kenanganku.
***
Otakku masih berfikir apa yang harus ku bilang pada pemilik baru cincinku itu, bagaimana kalau dia tak ingin menjualnya kembali padaku. Semua pertanyaan itu muncul tanpa bisa ku jawab, lalu ku beranikan diri menekan no handphone yang ada pada nota pembelian yang diberikan Koko Lim padaku. Terdengar nada sambung dari balik handphone ku dan tak lama kemudian suara merdu itu menyapaku.

“Hallo, Assalamu Alaikum!” suara itu menyapaku.
“Walaikum salam,  maaf benar ini dengan mbak Chika?” tanyaku dengan sedikit gugup
“Oh iya benar ini siapa yah, mas?” tanyanya.

Aku mencoba untuk menceritakan semua yang terjadi pada diriku dan cincin kenangan itu, berharap dia sedikit iba dan mau menjual kembali cincin harapanku bersama Tania. Aku tak tahu apa yang ada dalam fikiran Chika, ia hanya memintaku untuk datang pada perumahan Elite di kawasan Jakarta Selatan. Lalu ku pacu secepat mungkin motorku bagaikan seorang pembalap F1 yang berlaga di sirkuit. Tepat sejam aku sampai depan rumah Chika, rumah yang sangat mewah menurutku dan aku disambut dengan satpam rumah yang berwajah garang namun sangat bersahabat, mengantarku masuk menemui tuan rumahnya. Aku menunggu Chika diruang tamu yang megah, ku lihat foto keluarga yang terpajang dengan ukuran besar di dinding, terlihat seorang pria setengah baya mengenakan setelan jas begitu berwibawa sangat terlihat kalau dia seorang pemimpin dan tepat berdiri disampingnya wanita cantik mengenakan kebaya berwarna senada dengan gadis imut yang duduk sendiri pada foto mereka. aku pastikan itulah Chika gadis yang membawaku sampai dirumah ini.

“Kakak Brian ya?” suara lembut itu mengalihkan penglihatanku pada foto keluarganya.
“Iya” jawabku simpel dan membalas senyuman manisnya.

Aku tak berani menatap matanya yang cantik, jantungku berirama seperti gendang dangdutan. Lalu ku lihat dijari manisnya, ia memakai cincin kenanganku, cincin yang seharusnya melingkar pada jari manis Tania buka jari manis Chika. Ingin rasanya segera ku lepaskan dari jari manisnya.

“Kakak Brian menginginkan cincin ini kembali?”ia sambil memamerkan cincinku di jari manisnya.
“Iya, Kha. Aku kesini memang untuk cincin itu. Aku akan beli berapapun yang kamu minta, tapi kalau boleh jangan terlalu mahal ya.” jawabku sedikit memaksa.
“Aku tidak butuh uang kakak, aku cuma butuh waktu kakak dua minggu menemaniku kemanapun yang aku mau, setelah itu kakak Brian boleh mengambil kembali cincin kakak. Bagaimana?” pinta Chika kepadaku.
“Tapi aku kerja, aku punya tanggung jawab dengan pekerjaanku.” pintaku sedikit menolak permintaanya yang aneh.
“Seminggu kakak ambil cuti dan seminggu lagi kakak temui aku tiap pulang jam kerja.” kembali Chika memberikan permintaan.

Aku tahu Chika punya uang lebih dari yang ku miliki, dia tidak mungkin menukar cincinku dengan uang namun kenapa harus aku yang menemaninya. Permintaan yang harus ku terima dan menelannya seperti pil pahit yang dicekok kedalam mulutku secara paksa.


Bersambung....



Untuk sementara pause dulu yah. Penasaran kan? Hehehe
Nantikan kelanjutan ceritanya di postingan selanjutnya.

Thursday, 1 August 2013

Puisi: Jika Aku Jatuh Cinta

Allahu Rabbi aku minta izin
Bila suatu saat aku jatuh cinta
Jangan biarkan cinta untuk-Mu berkurang
Hingga membuat lalai akan adanya Engkau

Allahu Rabbi
Aku punya pinta
Bila suatu saat aku jatuh cinta
Penuhilah hatiku dengan bilangan cinta-Mu yang tak terbatas
Biar rasaku tetap utuh

Allahu Rabbi
Izinkanlah bila suatu saat aku jatuh cinta
Pilihkan untukku seseorang yang hatinya penuh dengan kasih-Mu
dan membuat ku semakin mengagumi-Mu

Allahu Rabbi
Bila suatu saat aku jatuh hati
Pertemukanlah kami
Berilah kami kesempatan untuk lebih mendekati cinta-Mu

Allahu Rabbi
Pintaku terakhir adalah seandainya ku jatuh hati
Jangan pernah Kau palingkan wajah-Mu dariku
Anugerahkanlah aku cinta-Mu..
Cinta yang tak pernah pupus oleh waktu


Amin...


Sunday, 16 June 2013

Cerpen Cinta: Blind

Victoria membuka matanya perlahan. Sekujur tubuhnya terasa lemah, lemas, remuk, semua bertumpuk menjadi satu. Matanya sembab. Dipijaknya lantai kamar putihnya yang terasa sangat dingin itu. Dress putihnya bergerak pelan ketika Victoria berdiri. Kamar itu masih berantakan. Foto tersebar di sana-sini. Bahkan beberapa bingkai fotonya telahpatah dan kacanya pecah. Keadaan kamar itu begitu kacau, sekacau pikiran Victoria.
Victoria melangkah pelan mendekati jendela dengan kaki telanjangnya. Tak sedikitpun terlintas di otaknya bahwa ia takut menginjak beling-beling yang berserakan, tidak, dia malah justru menginginkan itu.
Tangan kanan Victoria menyibak gorden cream itu pelan, melihat keluar. Sinar Matahari telah setengah sempurna di luar sana. Tapi keadaannya sepi. Sangat sepi.
“Eoddiga?” lirih Victoria dengan suaranya yang menghilang.
Matanya kembali mencari, mencari sesuatu. Lelah, benar-benar lelah. Tapi dia tak menemukan apa-apa.
Gorden itu kembali ditutup dengan perlahan. Lagi-lagi kaki Victoria melangkah untuk keluar dari kamarnya.
Satu demi satu langkahnya tercipta tanpa iringan. Dan KRAK!!!
“Ah,” rintihnya. Kakinya menginjak beling. Beling itu menancap cukup dalam.
Victoria mendudukan dirinya. Ia mengeryit dalam saat tangannya bergerak menarik beling itu. dan matanya terpejam menahan sakit,bersama sebuah airmata mengalir.
“Sakit... tolong aku..!!!” rintihnya.
Tapi tak ada yang menanggapi permintaan tolongnya itu. Tidak ada suara. Tidak ada langkah kaki yang tergesa-gesa menghampirinya. Bahkan anginpun tidak bertiup.
Airmata Victoria semakin deras mengalir.
“Kau dimana ? Aku butuh bantuanmu… chagi !! Kakiku sangatsakit.” Teriak Victoria.
Darah segar mengalir menetes di lantai.
“Chagi ! Kyuhyuun !! Kau dimana? Kyuhyun! Kau dimana? Kau tidak meninggalkanku kan? Kyuhyun!!” teriaknya lagi. Kali ini teriakkan ituberpadu dengan rasa takut Victoria.
Mata Victoria memandang ke arah pintu. Tubuhnya melemas, dengan mata berkunang. Di pintu itu…tidak. Di pintu itu tidak ada siapapun!Kyuhyun tidak ada disana. Tidak ada.
Tubuh Victoria tergeletak lemah di lantai.
“Kyuhyun, kau dimana?” tanya Victoria menggantung dalam udara di sekitarnya tanpa ada satupun suara menjawabnya. Dunia Victoria kembalimenggelap.
--
*FLASHBACK*
“Lihat, lihat cincin-ku ! Bagus kan?” celoteh Victoria menyandar pada bahu Kyuhyun.
Kyuhyun tertawa dan ikut menyandarkan kepalanya ke kepalaVictoria. Tangannya juga terangkat ke depan, menjajari tangan Victoria.
“Kau pikir hanya punyamu yang bagus? Aku dua kali lipat lebih bagus dibandingkan cincinmu!” bantah Kyuhyun.
Victoria memukul gemas paha Kyuhyun.
“Ya! Cho Kyuhyun, dimana-mana itu namja seharusnya memuji penampilan yeoja-nya, bukan membanggakan diri sendiri!” protes Victoria seraya mengangkat kepalanya dan kini ia berhadapan dengan Kyuhyun.
“Yeoja sepertimu untuk apa dipuji? Cantik… tidak. Manis…tidak. Feminim… tidak…”
Sebelum Kyuhyun mengucapkan lebih banyak lagi kata-kata ejekan super duper menyebalkan yang pernah Victoria dengar, Victoria segera membungkan mulut Kyuhyun kuat-kuat.
“Diam! Aku memang tidak cantik, manis, feminim dan bla blabla..tapi kau mencintaiku kan? Buktinya sekarang kita memakai cincin yang sama. Cincin pertunangan!” bangga Victoria dengan wajah bahagianya.
Kyuhyun melepas bungkaman Victoria itu. dan menggenggam tangan halus itu erat-erat.
“Ne ne ne, untuk yang itu, aku tidak bisa mengelak. Memangaku cinta, akh tidak bahkan sangat mencintamu.” Kata Kyuhyun mencium sekilas tangan Victoria. Membuat pipi Victoria bersemu merah.
“Nado saranghaeyo Kyuhyun!” balas Victoria lengkap dengan senyum khas-nya.
Senyum yang selalu bisa membunuh Kyuhyun kapan saja. Membuat Kyuhyun terdiam, dan merasa seperti tersengat listrik. Dan hanya Victoria yang bisa berbuat seperti itu padanya.
Kyuhyun kemudian meraih Victoria ke pelukannya. Hangat. Terasa sangat hangat.
“Saranghae… jeongmal saranghae.. yeongwonhi. Aku akan terus mencintaimu sampai aku mati..” kata Kyuhyun pelan terdengar seperti berbisik ditelinga Victoria.
Victoria tersenyum simpul.
“Arra, aku juga mencintamu..” balas Victoria.
Mereka berpelukan cukup lama, hingga jam dinding Victoria berbunyi. Berdentang sebanyak 11 kali.
“Astaga, jam 11 ? akh, kenapa aku tidak sadar..” pekik Victoria melepas pelukan itu.
Kyuhyun menilik jam tangannya.
“Vicco, aku harus pulang sepertinya…” kata Kyuhyun tiba-tiba.
Mata Victoria membulat.
“Mwo? Tapi ini sudah malam. Aku tidak mau terjadi apa-apa denganmu. Lebih baik kau menginap saja ya?” tawar Victoria.
Kyuhyun menggeleng.
“Aniya. Kita belum menikah, jadi kita tidak boleh tidur dalam satu rumah yang sama sebelum menikah. Kau mau tetanggamu beranggapan buruk tentangmu?” ucap Kyuhyun.
“Tapi kita kan tidak tidur dalam satu kamar yang sama. Kau bisa di sofa dan aku di kamar.”
“Aniya, aku harus pulang.” Kata Kyuhyun kemudian meletakkan tangannya di atas kepala Victoria.
“Song Xi Quan, dengar ya. Aku, Cho Kyuhyun, tidak mau tidur dalam satu rumah yang sama denganmu sebelum kita menikah. Tapi itu bukan berarti aku tidak mencintaimu. Justru karena aku sangat sangat mencintaimu, aku tidak mau terjadi hal yang tidak kita inginkan. Dan satu lagi, catat ucapanku, ingat, atau kalau perlu kau ukir baik-baik di pikiranmu. Aku Cho Kyuhyun, selamanya hanya mencintai Victoria Song. Tidak ada yang lain. Arra?”
Victoria terdiam. Jantungnya berdebar. Sungguh kata-kata itu begitu membuatnya ingin terbang mengelilingi dunia. Membuat darahnya menari-nari tidak jelas di dalam tubuhnya.
Victoria hanya bisa mengangguk dengan selembar senyum. Dan Kyuhyun ikut tersenyum, tangannya mengacak rambut Victoria pelan.
Kyuhyun bangkit seraya menggegam tangan Victoria.
“Kajja, antarkan aku ke depan.” Kata Kyuhyun.
Victoria mengangguk dan mempererat pegangan tangannya.
Mereka berdua melangkah pelan menuju pintu, hingga pintu ituterbuka, suasana di luar rumah begitu sepi. Hanya terdengar kerikan jangkrik.
“Hati-hati di jalan Kyuhyunnie…” kata Victoria tetap berpegangan erat. Entah kenapa rasanya enggan sekali melepas genggaman itu.seakan-akan genggaman itu adalah genggaman tangan yang terakhir dari Kyuhyun.
Kyuhyun tersenyum.
“Hmmm arraseo ! sudah ya, aku pulang..” kata Kyuhyun melepas pegangan tangannya pelan lalu mulai melangkah pergi, tapi tiba-tiba ia berhenti.
“Ah, ada yang lupa..” katanya berbalik dan tersenyum lebar mendekati Victoria.
“Apa?” tanya Victoria mengangkat alisnya.
Kyuhyun tertawa kecil lalu ia memegang bahu Victoria.
“Ini…”
Bibir Kyuhyun menyentuh lembut dahi Victoria. Cukup lama.
Pipi Victoria bersemu lagi. Tubuhnya terasa panas dingin.
“Annyeong My Victoria…”kata Kyuhyun melangkah pelan ke mobilnya.
Di nyalakannya mesin mobilnya itu. Lalu sekali lagi, matanya mengarah pada Victoria yang juga sedang memandangnya.
Kyuhyun melambai dan tersenyum lebar. Victoria balas lambaian itu dengan segera.
“Jaga dirimu baik-baik, chagi..” lirih Kyuhyun.
Di injaknya gas mobil dan perlahan mobil itu meninggalkan halaman rumah Victoria.
Sementara Victoria terus memandangi mobil Kyuhyun hingga mobil itu benar-benar hilang. Tangannya mengepal di depan dadanya. Meremas bajunya.
“Jaga Kyuhyun-ku, Tuhan..” ucapnya.
---
Kyuhyun melaju pelan. Jalanan malam itu benar-benar sepi.
“Victoria…victoria..victoria..” ucap Kyuhyun menyenandungkan nama Victoria dengan riang.
Senyumnya terus terukir dengan pikirannya yang terus memputar-putar tampilan wajah Victoria. Senyum Victoria, tawa Victoria. Dan segala tentang Victoria.
Mobil hitam Kyuhyun terus melaju dengan pelan.
Namun, dari arah berlawanan sebuah mobil melaju ugal-ugalan.J alannya tidak sinkron. Sebentar di kanan lalu ke kiri. Melaju begitu cepat.
Dan mobil itu melaju di lajur yang salah. Jalan yang salah!.
Sementara mobil Kyuhyun menikung pelan dan mata Kyuhyun langsung membelalak begitu melihat mobil dari arah berlawanan melaju dengan cepatnya. Tangannya baru akan membanting stir. Tapi terlambat.
Suara dentuman yang amat keras terlebih dahulu terdengar beserta suara sirine kedua mobil. Tabrakan itu tak bisa dihindari. Tubuh Kyuhyun lemah terkulai. Terjepit stir dan tempatnya duduk. Darahnya mengalir dari segala bagian tubuhnya. Beling kaca mobilnya menyilet-ngilet wajahnya. Tangannya menggantung.
“Vic…….”
Nama itu belum selesai disebutkan. Belum selesai!. Tapi nyawa itu telah lebih dulu terangkat dari tubuh pemiliknya.
Tangan yang menggantung itu juga sudah tak bergerak, dan sebuah darah mengalir melewati cincin berwarna perak itu.
*END FLASHBACK*
----
Mata Victoria terbuka seketika. Nafasnya tersengal dengan keringat mengalir. Mimpi itu. Mimpi tentang kilasan wajah Kyuhyun yang telah beku dan tak mengucapkan apa-apa.
Victoria bangkit. Matanya mengelilingi kamarnya sendiri.
“Kyuhyun tidak ada…” ucapnya lirih dengan airmata dan isakan. Dadanya penuh akan sesak.
“Kyu..” sekali lagi nama itu terucap. Semakin membuatVictoria sakit.
Victoria menunduk. Tangannya yang masih terkena darah dikakinya tadi bergerak pelan mengambil salah satu foto di dekatnya.
Foto itu. Foto Kyuhyun merangkulnya.
“Kyuhyun… kyuhyun… aku mencintaimu….” Lirihnya terus mengisak dengan airmata yang tak pernah habis.
----
Victoria tersenyum simpul. Senyum yang sangat tipis. Duka hatinya masih bergelora sampai bulan ketiga ini. Ditutupnya pulpen berwarna merah muda itu. Kemudian lembaran kertas di hadapannya itu di lipat rapi dan dimasukkan ke dalam amplop.
“Selesai..” katanya lalu bangkit dan meletakkan amplop itu di nisan Kyuhyun bersama dengan bunga ester putih-kuning itu.
“Kau harus membacanya..” kata Victoria memandang nisan itu. Airmatanya tidak bisa ditahan, dan mengalir begitu saja.
“Annyeong..” ucapnya mengusap airmatanya pelan dan berbalik.
Victoria melangkah pelan. Rambutnya berterbangan ringan ditiup angin. Seraya melangkah ia kembali mengingat apa yang telah ditulisnya tadi.

To : Cho Kyuhyun.
Hai, Kyuhyun.
Aku ingin menyampaikan segala perasaanku yang tak pernah kau tahu selama ini. Perasaan yang sangat besar dan hanya tersedia untukmu. Perasaan yang begitu menggembung lebar dalam diriku. Tidak pernah bisa sama sekali aku menghilangkannya.
Bahkan setelah tiga bulan kau pergi, perasaan ini masih begitu jelas untukku. Baiklah, aku tahu kau tidak suka basa-basi, jadi aku akan langsung mengatakannya.
Kyuhyun, aku sangat sangat mencintaimu. Benar-benar mencintaimu. Dan aku semakin mencintaimu sekarang. Meski kita berada di alam yang sangat berbeda. Dan aku tak akan pernah lagi bisa melihatmu dengan mataku ini, tapi mata hatiku hanya akan selalu melihatmu.
Aku menyayangimu. Dan aku senang, kau menepati janjimu. Janji bahwa kau akan mencintaiku sampai mati. Aku sangat bangga memiliki tunangan sepertimu, apa aku sudah mengatakannya? Kurasa belum.
Kyuhyunnie, Song Xi Quan di sini sangat merindukannmu. Sangat sakit hatinya karena tak bisa melihatmu. Sangat rapuh jiwanya karna tidak ada kau di sini. Tapi, aku juga sangat kuat karena cintamu. Cintamu yang sampai sekarang masih mengalir dengan kentalnya bersama darahku. Masih hidup bersama detakan jantungku.
Selamat tinggal Kyuhyun. Meski kau tidak ada di dunia yang sama denganku, jiwamu akan selalu tertanam di dalam sini, di hatiku..
Saranghaeyo, ChoKyuhyun.

Victoria Song.