Showing posts with label Natania Prima Nastiti. Show all posts
Showing posts with label Natania Prima Nastiti. Show all posts

Tuesday, 13 November 2012

At The Romantic Paris

             Oleh Natania Prima Nastiti
            Selalu teringat dibenakku kejadian dua minggu yang lalu. Teringat akan senyuman tulus gadis itu juga kedua mata indahnya yang kugambarkan mirip dengan bulan terang di malam hari. Saat nyaris saja sebuah mobil menabrak gadis itu, dengan sigapnya aku menolong gadis yang tidak kuketahui namanya itu bak seorang pahlawan. Kejadian itu benar-benar membuatku gelisah sekarang. Ditambah pancaran sinar dari wajah cantik gadis itu yang membuatku tambah tak karuan. Bahkan hingga saat ini, aku masih saja terus gelisah memikirkan gadis cantik itu. Hingga saat ini, saat sesuatu yang tidak terduga datang lagi kepadaku..

            Kupotret bangunan-bangunan di Kota Tua sore itu, semua orang yang lewat, para pedangang yang menanti pembeli datang. Hingga sesuatu yang tidak terduga itu terjadi. Diantara banyak orang-orang lewat sambil tertawa ria, aku melihat sosok wajah yang familiar. Ya, gadis itu. Gadis yang kutolong dua minggu lalu. Dia juga sedang asik mengabadikan kejadian-kejadian menarik di Kota Tua sore itu. Kemudian terukir sebuah senyuman dibibirku, dan aku pun berlari menghampiri gadis itu. “Hey!” sapaku. Gadis itu menoleh sambil tersenyum indah dengan tampang agak sedikit bingung dan ragu. “Dua minggu lalu, kita ketemu saat kamu mau ketabrak mobil. Udah inget sama aku?” tanyaku menjawab tanda tanya dipikiran gadis itu. Gadis itu kemudian tertawa sambil menganggukkan kepalanya.

            “So, kamu seneng photograph juga, Sar?” tanyaku setelah kami berkenalan dan aku tau nama gadis itu adalah Sarah. “Iya. Dari SMA aku udah suka photograph. Seneng aja gitu bisa ngabadiin hal-hal menarik yang kadang nggak kita sadarin” jawabnya sambil tersenyum lembut ditambah sebuah lesung pipi di pipi kanannya. Aku mengangguk. “Emm, kapan-kapan boleh kali hunting bareng. Hehe” ucapku basa-basi. “Oh, boleh-boleh! Secepatnya deh direncanain tempatnya, soalnya baru-baru ini aku juga ada rencana mau hunting gitu deh” jawabnya bersemangat. “Oke deh, pasti diusahain cepet cari tempat huntingnya, Sar” sahutku sambil mengedipkan satu mata kearahnya. Sarah tertawa kemudian dia memotret seorang ibu yang sedang menggandeng kedua anak kembarnya. “Mau es krim?” tanyaku lagi. Sarah mengangguk.

***

            Semakin lama, semakin dekat aku dengan Sarah. Takdir memang tidak kemana, pertemuanku dengan Sarah benar-benar takdir yang indah. Apalagi setelah kita berdua hunting bersama di sebuah wisata air terjun di Jawa Tengah, kita berdua menjadi semakin akrab lagi. Kita berdua sudah saling berbuka cerita satu sama lain. Berbagi inspirasi, cerita, pengalaman, trik-trik memotret yang baik dan lainnya. Sampai kuketahui ternyata kedua orangtua Sarah telah lama meninggal dan sekarang dia tinggal bersama tantenya dengan hidup yang sederhana. Kenang-kenangan dari kedua orangtuanya hanya sebuah kamera yang sekarang selalu berada disisinya juga keinginan orangtuanya yang selalu ada dipikiran Sarah. Mereka ingin sekali Sarah menjadi photografer handal, terkenal dan bisa melanjutkan studi di Paris. “Mereka mau banget aku bisa ke Paris, menjadi seorang mahasiswi dan seorang photografer yang handal, Zan. Jika suatu saat aku bisa memamerkan hasil foto-fotoku di Paris, mereka pasti akan bangga banget punya anak kayak aku. Makanya itu, sampe sakarang, aku terus berlatih jadi photografer yang handal supaya bisa dapet beasiswa ke Paris dari kampusku. I ever fail, but I always try it again and again”, jelas Sarah saat berbicara tentang keinginan orangtuanya. Dari situ aku mengerti, bahwa Sarah adalah seorang perempuan yang pantang menyerah demi keinginan orang yang disayanginya.

            Lima bulan telah berlalu dengan begitu cepat. Kedekatanku dengan Sarah semakin menjadi. Kehandalan Sarah dalam memotret suatu objek juga semakin mantap. Aku optimis, jika dia bisa mendapatkan beasiswa itu. Dengan berjalannya waktu dan kedekatan ini, timbul perasaan sayangku padanya yang lebih mendalam dari sebelum-sebelumnya. Aku semakin ingin menjaga Sarah sepenuh hatiku. Aku ingin sekali melindunginya dari apapun. Aku ingin selalu ada disampingnya selalu. Menemani harinya. Tapi, aku masih belum berani mengungkapkan perasaan sayang ini padanya. Mungkin aku memang cowok pengecut yang takut ditolak cintanya dengan Sarah jika aku mengungkapkan isi hatiku yang sebenarnya. Tapi, aku memang benar-benar takut. Sampai saat ini Sarah tidak pernah memperhatikanku sampai sedetail mungkin. Dia hanya memerhatikanku sebagai temannya, menurutku. Sampai malam itu, saat aku mengajaknya ke Puncak, malam yang sangat istimewa bagiku..

            “Dezan, kamu nggak mau ngomong sesuatu sama aku?” tanya Sarah tiba-tiba. seketika aku bingung menatap Sarah. Tapi Sarah membalas tatapan bingung itu dengan senyuman dan sebuah lesung pipi khasnya. “Emm, berbulan-bulan kita dekat, apa kamu nggak ngerasa sesuatu yang berubah dari hati kamu?” tanya Sarah lagi sambil memandang licik kearahku. Aku hanya menaikkan satu alisku keatas, bingung. “Oke, bukannya aku kepedean sih, but I think.. you like me”, ucapan singkat yang keluar dari mulut Sarah itu telah membuat sekujur tubuhku gemetaran. Aku rasa darahku berhenti mengalir. Kemudian aku menarik nafas dalam-dalam dan membuangnya secara perlahan hingga tiga kali, baru kemudian kujawab ucapan Sarah tadi. “No I’m not. I don’t like you, but I love you, Sarah” jawabku kemudian. Sarah terlihat kaget sejenak, dan kemudian dia tersenyum indah sekali padaku. “Dari pertama insiden itu terjadi, aku udah tertarik sama kamu. Tadinya aku berpikir mustahil akan bertemu kamu lagi tapi ternyata takdir berkata lain. Kita berdua dipertemukan kembali di sebuah tempat indah dan saat suasana romantis tercipta. Sampai akhirnya kita semakin dekat dan semakin lama perasaan sayang itu terbentuk di hatiku untuk kamu, Sarah” ucapku. Tiba-tiba Sarah memelukku dengan erat, aku merasa bahuku basah. Sarah menangis. “I love you too, Dezan” ucapnya disela-sela isak tangisnya. Senyumku berkembang sambil membalas pelukan Sarah.

***

            Malam itu dirumah Sarah sangat ramai. Bertahun-tahun Sarah menginginkan dan akhirnya hari itu juga dia telah mendapatkannya. Malam itu juga genap hubungan kami yang setahun. “Thanks for Jesus, Father from all of children, yang telah memberikan kasih sayangnya padaku,  thanks for my friends, my belove’s aunt and thanks for my beloved, yang telah hadir disini. Aku mendapatkan beasiswa ini nggak luput dari peranan dan support dari kalian semua. Bertahun-tahun aku mengejarnya, ternyata pengejaran itu berakhir disini. Ditahun ke-6 kedua orangtuaku meninggal. Setelah nanti aku berada di paris, aku nggak akan pernah mengecewakan kalian semua terutama Tante Mira dan keluarga yang telah ngerawat aku setelah kepergian kedua orangtuaku. Aku benar-benar berterima kasih atas apa yang telah kalian lakukan padaku” ucap Sarah panjang lebar dihari kebahagiaannya malam itu. Pelukan dan ciuman hangat serta tangis haru beradu menjadi satu dimalam bahagia itu. Aku yakin, kedua orangtua Sarah juga pasti merasakan kebahagiaan di Surga sana.

            Setelah lama berbincang, kemudian Sarah pamit permisi sambil mengajakku keluar rumah. sarah memelukku kemudian mencium pipiku. Dikeluarkannya tiket pesawat keberangkatan menuju Paris besok dari dalam saku bajunya. “See it, Honey” ucapnya sambil tersenyum padaku. “Happy anniversary one year, Dezan” ucapnya lagi sambil meneteskan air mata. “Kenapa?” tanyaku sambil menghapus air matanya. “Walau nanti kita nggak ketemu, kita berbeda tempat, berbeda pijakan bumi dan hamparan langit, kita akan tetap saling mencintai kan? Kamu nggak akan ninggalin aku kan? Hati kita akan terus bersatu kan?” tanya Sarah semakin terisak. Aku tersenyum, “aku cinta sama kamu selama-lamanya, Sarah. Aku akan terus dan akan tetap mencintaimu sampai nanti kita akan kembali pada Tuhan. Only dead is over our”. “I wish, We can meet again and stay at the romantic place in this world, French. Paris. And at the heaven if we die” ucap Sarah sambil terus menangis. “Kita pasti akan bertemu di kota romastis sedunia ini, Paris dan di Surga jika kita mati nanti” sahutku mengikuti ucapan Sarah. Aku memeluk Sarah dan menciumi keningnya. Walau berat melepasnya, tapi aku rela demi kebahagiaannya... mungkin...

            Acara di rumah Sarah selesai sekitar pukul 01.00. semua teman-temannya sudah pulang dan aku pun pamit pulang pada Sarah dan keluarga Tantenya. Saat setengah perjalanan, tiba-tiba handphoneku bergetar. Kupinggirkan mobil di bahu jalan yang lumayan sepi itu. “Iya, Tante, ada ap..?” ucapanku terputus. Bulu kudukku berdiri, aku merasa jantungku akan berhenti saat itu juga. Apa ini? apa yang baru kudengar ini?! handphoneku terjatuh. Aku memandang kosong kearah jalanan yang sepi. Semua badanku kaku dan gemetaran. Ini pasti mimpi! Just dream! Just shit dream!!. Suara Tante Mira masih bisa kudengar saking sepinya jalanan itu. “Hallooo?! Dezan? Dezann?! Kamu dengar kan? Sarah kecelakaan! Kamu harus cepat ke rumah sakit!”.

***

            We can meet again and stay at the romantic place in this world, French. Paris. And at the heaven if we die”. Teringat ucapan Sarah yang masih terdengar jelas ditelingaku. Ternyata pelabuhan terakhir memanglah Surga bukan kota romantis sedunia seperti Paris. Kelu lidah ini melihat gadis bergaun putih, bersarung tangan putih dengan tataan rambut yang indah dan wajah yang cantik tertidur pulas disebuah peti yang berbalut kain putih dengan banyak bunga di dalamnya. Kota Paris, hanyalah sebuah kota megah yang hanya dapat dia impikan tanpa bisa diraihnya. “Setelah kamu pergi, Sarah berlari mengejar mobilmu dan meneriaki namamu, Dezan. Hingga tanpa aba-aba, terdengar decitan rem yang sangat nyaring dari sebuah mobil sedan. Dan tanpa bisa dihentikan lagi, badan logam mobil itu telah beradu dengan tulang yang berbalut daging milik Sarah hingga dia terpental jauh. Tante nggak kuat, Zan, kenapa Tante harus menyaksikan sendiri peristiwa itu? Menyaksikan sendiri keponakan yang sangat tante banggakan akhirnya harus merelakan semua impiannya sia-sia”, ucapan Tante Mira tadi membuat tangisku semakin menjadi. Semua teman menyemangatiku. “Yang kami temukan, sebuah tiket menuju Paris dan sebuah foto ini”, ucapan Inspektur polisi malam itu, membuat aku mengeluarkan foto yang terkena bercak darah dari dalam kantong plastik. Foto mesra kami berdua. Foto cantik Sarah dengan senyumannya yang selalu tulus dan kedua matanya yang indah. Sama persis ketika aku pertama kali melihatnya dulu. Tapi sekarang senyuman itu akan pudar selamanya dan kedua mata itu akan tertutup tidak akan pernah terbuka lagi. Maaf jika kali ini aku tidak bisa menolongmu, Sarah. Ku relakan engkau Sarah, walau berat bagiku melepasmu kembali ke Sisi Tuhan...

Friday, 29 June 2012

Cerpen untuk Seorang Kakak: In Her Beautiful Smile

In Her beautiful Smile
Cerpen Senyum
penulis: Natania Prima Nastiti
Aku punya seorang kakak perempuan yang sangat cantik. Nadira namanya. Bagiku dia adalah seorang kakak yang terbaik di dunia ini dan di dalam kehidupanku. Kami berdua selalu bersama dan tidak pernah bertengkar. Kadang, karna keegoisan aku sebagai adik, kakak selalu mengalah. Dia tidak pernah memarahiku. Jika aku salah, dia hanya menasihatiku dengan cara yang halus. Perbedaan umur kami hanya dua tahun, hal itu membuatku merasa dia juga sebagai seorang sahabat. Kak Dira, tiada hari tanpa tidak tersenyum. Senyumannya yang tulus itu, selalu membuatku senang. Beruntungnya aku mempunyai kakak seperti dia. Dialah segala bagiku.

Sampai akhirnya, Kak Dira selalu mengeluh sakit kepala yang luar biasa. Entah kenapa, dia selalu sakit kepala. Kadang dia menangis menahan sakit yang dia alami. Akhirnya, selama dua minggu selalu mengeluh, mama membawanya ke dokter. Dan dokter bilang dia punya penyakit tumor otak. Semenjak keterangan dokter itu, kakak masih selalu tersenyum. Entah apa yang membuatnya kuat, dia selalu saja tersenyum di hari-harinya yang selalu terlewati dengan kepahitan. Aku yang melihat senyum kakak dan ketegarannya, malah selalu sedih. Kakak, bagaimana mungkin dia tidak menganggap penyakit yang mematikan itu dan hanya tersenyum?. Tiga bulan hidup dengan tumor di otaknya, membuat kakak semakin tersiksa. Kini kakak sudah tidak bisa berjalan lagi. Kedua kakinya lumpuh total. Tetap seperti biasa, walaupun dia tidak bebas melakukan apa yang dia inginkan, senyumannya tidak pernah lepas dari bibirnya. Seminggu tidak bisa berjalan, ganti kakak tidak bisa berbicara. Sebenarnya dia bisa berbicara, hanya saja dia selalu berbicara dengan putus-putus. Setiap malam, kakak tidak bisa lagi bercerita untukku. Tapi senyuman kakak dan ketegaran hatinya tidak pernah pudar. Suatu hari, aku mendekati kakak dan memanggilnya.

“Kak Dira, mama buat kue nih buat kakak” ucapku dari arah belakangnya. Tapi Kak Dira tidak menyahuti.

Aku terus memanggilnya tapi tetap tidak ada sahutan dari mulut kakak. Kemudian aku memagang bahu kakak. Dia sedikit terkejut. Aku duduk di depannya dan memandangnya. Kak Dira tetap tersenyum. Saat itu aku sadar kakak tidak dapat lagi mendengar. Cukup! Cukup penderitaan yang dialami kakak. Kenapa harus kakak? Kenapa harus kakak yang mengalami penderitaan yang begitu menyakitkan ini?. ku genggam tangan kakak yang terlihat begitu rapuh. Kakak balas mengenggam tanganku. Kakak tersenyum lagi tapi aku tidak. Aku tidak bisa tersenyum padanya yang jelas-jelas merasakan kesakitan ini.

Malamnya, penyakit itu mengganggu tubuh kakak lagi. Kakak mengeram kesakitan dengan kerasnya.

“Sa... saakk... sakkittttt!!!!!!!!”, kakak selalu mengeluarkan ucapan itu dengan susahnya. Dan selalu memegang kepalanya juga menjenggut-jenggut rambutnya sendiri.

Aku benar-benar tidak tega melihat kakak tersakiti. Setiap kakak mengeluh kesakita, aku selalu keluar dari kamar dan menangis sendirian. Waktu itu aku sedang belajar dan kakak sedang membaca bukunya. Melihat kakak, aku kembali meneteskan air mata. Biasanya saat aku belajar, kakak selalu ada disampingku. Memang saat itu kakak menemaniku tapi dia tidak membantuku belajar. Dia sibuk dengan kerjaannya sendiri. Entah kenapa, tiba-tiba aku mulai menulis surat untuk kakak. Karena jarak kita waktu itu cukup jauh, aku meremas kertas yang bertuliskan suratku dan melemparnya pada kakak. Karna percuma aku memanggil kakak, toh kakak tidak mungkin memalingkan kepala kearahku. Setelah sadar ada kertas di sampingnya, kakak langsung mengambil kertas itu dan menengok kearahku dan tersenyum. Setelah cukup lama, kakak kembali menengok kearahku dan menyodorkan sebuah kertas tepat disampingnya. Kemudian aku mengambil kertas itu dan mulai membaca tulisan kakak.

Ini tulisanku pada kakak,

Kak, kenapa kakak selalu tersenyum di tengah-tengah penderitaan kakak? Kenapa kakak selalu tegar padahal penyakit kakak selalu mengganggu saat kakak tidur? Kenapa kakak nggak pernah meneteskan air mata disaat penyakit itu datang kak? Kak, menangislah walau hanya setetes air mata. Kakak nggak bisa selalu tersenyum. Kakak pasti sebenernya sedih kan? Terbukalah padaku, kak. Jangan kakak tutupi kesedihan yang mengganjal dihati kakak. Keluarkanlah semua amarah kakak. Aku mau menerima semua amarah kakak itu. Aku akan menemani kakak.

Tulisan kakak padaku,

Tersenyum, hanya itu yang bisa kakak lakukan sekarang ini. kakak ingin sekali menangis, tapi kakak yakin itu hanya akan membuat keluarga ini tambah sedih. Tersenyum, kakak akan selalu melakukan itu selagi kakak bisa melakukannya. Karna nanti jika kakak sudah ada di alam yang berbeda dengan kamu dan keluarga ini, kakak yakin sudah tidak bisa lagi tersenyum dihadapan kalian semua. Tegar, itu juga hal yang akan kakak terus lakukan. Hanya dengan ketegaran, kakak bisa menahan tangisan kakak ini. untuk saat ini, kakak nggak mau ninggalin kalian semua. Jani, kamu jangan selalu memandang sedih pada kakak ya? Tersenyumlah pada saat kakak melihat kamu. Karna melihat senyuman kamu itu, bisa membuat kakak selalu tegar dan kuat untuk menghadapi dan melawan penyakit yang menyakitkan ini. percaya pada kakak, kamu pasti bisa melihat kakak yang seperti dulu lagi. Jangan nangis lagi ya, jani? Janji sama kakak ya? Smile :)

Setelah membaca tulisan kakak yang tidak bagus seperti dulu itu, aku meneteskan air mata lagi. Dulu aku iri saat setiap melihat buku catatan pelajaran kakak. Aku iri dengan tulisan bagus kakak. Tapi saat ini, tulisan kakak sudah tidak sebagus dulu. Banyak tulisan yang bergemetar. Aku yakin kakak menulisnya dengan susah payah. Kemudian aku menghampiri kakak dan memeluknya. Kemudian aku tersenyum di tengah tangisanku. Kakak mengelap air mataku dan tersenyum padaku juga. Ketegaran kakak, sepertinya kakak sungguh-sungguh akan hal itu.

Setelah hampir lima bulan, kakak hidup dengan penderitaan. Malam itu adalah puncaknya kakak mengeluh akan penyakitnya. Kakak sama sekali tidak bisa tidur. Dia terus berteriak tanpa bersuara. Saat akan dikeluarkan suaranya, dia selalu bersusah payah mengeluarkan suaranya. Dia memegang kepala dengan kuat-kuat. Saat itu juga, kakak seperti sulit bernafas. Lagi-lagi aku tidak bisa melihat kakak. Tapi, disaat seperti ini, harusnya aku disamping kakak. Menyemangatinya walau hanya dengan sebuah senyuman. Kuurungkan niatku untuk meninggalkan kamar. aku duduk di samping kakak yang terbaring tidak karuan. Ku genggam tangannya dengan erat. Setiap kakak melihat kearahku, saat itu juga aku berhenti menangis dan tersenyum padanya walau ini sangat terpaksa sekali. Kakak juga masih bisa tersenyum padaku sambil menahan sakitnya yang dirasakan kakak. Dia juga menggenggam tanganku dengan erat. Aku benar-benar tidak sanggup melihat kakak seperti ini. akhirnya malam itu juga kami semua membawa kakak ke rumah sakit. Ke tempat dimana kakak tidak pernah mau berada. Tapi takdir berkata kalau kakak harus ada di tempat yang paling kakak benci itu.

Hari demi hari berganti. Semenjak kakak di rumah sakit, kakak belum juga membuka kedua matanya. Senyum yang selalu aku lihat setiap harinya itu, tiba-tiba saja pudar seketika. Selang-selang rumah sakit, menghiasi tubuh kakak saat itu. Karena terus menjalani kemo terapi, rambut indah hitam kakak semakin berkurang. Rambut yang dahulu sangat aku inginkan itu, semakin lama semakin berkurang. Rambut kakak juga sudah tidak seindah dulu. Wajah cantik kakak, entah kenapa wajah itu semakin hari semakin membengkak. Aku terus duduk disamping ranjang kakak terbaring. Berharap akulah orang pertama yang bisa melihat kedua mata itu membuka dan melihat senyuman kakak yang selama beberapa hari ini tersembunyi di balik bibirnya yang pasti juga terasa sakit itu. Setelah hampir tiga minggu koma, akhirnya kakak kembali membuka matanya. Mata yang terlihat berbinar-binar itu kembali bisa aku lihat. Suara tangis mama, menghiasi kamar kakak saat itu. Kali ini, kakak hanya bisa terbaring di ranjangnya tanpa bisa melakukan apapun.

Suatu hari, aku menjenguk kakak di rumah sakit sepulang sekolah. Melihat kakak menderita, aku sangat ingin sekali menangis. dengan sangat terpaksa, aku menahan air mata yang akan keluar dari mataku. Kemudian kakak mengelus rambutku dan tersenyum padaku. Kakak benar-benar terlihat tegar saat itu. Aku yakin dia pasti ingin sekali mengatakan sesuatu padaku, tapi, dia tidak bisa mengatakannya. Dia selalu membuka mulut dan berusaha mengucapkan sesuatu, tapi dia selalu menutup kembali mulutnya itu. Aku memegang wajah kakak yang bengkak setiap harinya itu. Kemudian aku tersenyum sambil menganggukkan kepala. Setelah 15 hari kakak bertahan untuk membuka matanya, akhirnya kakak kembali menutup matanya dan koma. Dan akhirnya, kakak benar-benar menutup kedua matanya dan tidak akan pernah membukanya lagi. Aku tidak akan pernah bisa melihat mata indah kakak lagi. Tidak akan pernah bisa memerhatikan senyuman indah kakak lagi. Lebih baik begini daripada kakak harus menahan rasa sakitnya terus-menerus. Kami semua sudah ikhlas dengan kepergian kakak untuk selama-lamanya. Penderitaan kakak cukup sampai disini. Ketegaran kakak untuk tetap hidup dan melihat keluarganya, hanya cukup sampai disini. Mungkin dengan ini, kakak akan tenang dan tidak akan merasakan penderitaan itu lagi.

Setelah mengantar kakak ke tempat peristirahatan terakhirnya, aku masuk ke kamar kakak. Kulihat foto-foto saat kita berdua masih bisa berpelukan dan tersenyum juga tertawa bersama. Kulihat meja belajar kakak yang terlihat dingin karena tidak pernah kakak gunakan lagi selama berbulan-bulan ini. senyuman kakak, aku hanya bisa melihatnya di foto-fotonya dulu. Kakak.. kenapa kakak harus tinggalin aku? Kak, kakak bilang aku akan melihat kakak yang dulu lagi. Kenapa kakak pergi begitu cepat? Sekarang aku sendiri disini, kak. Sekarang aku udah nggak bisa belajar bareng kakak lagi. Semua yang akan kulakukan di rumah ini, hanya sendiri. Tanpa ada kakak di sampingku. Setelah lama melihat foto-foto kakak, aku duduk di kursi meja belajar kakak dan mulai membuka buku-buku kakak yang kaku. Tiba-tiba sebuah surat terjatuh saat aku membuka salah satu lembaran buku kakak. Kuambil surat itu dan kubaca.

Selalu menyinari bumi walaupun kita tidak bisa meraihnya. Selalu berada diatas kepala kita setiap harinya. Walau kadang kita tidak menganggapnya ada, tapi dia idak pernah lepas menjalankan tugasnya untuk menyinari bumi. Ya, itulah matahari. Matahari.. aku ingin sekali menjadi matahari. Walaupun nanti aku akan pergi, aku masih mampu melindungi keluargaku. Walau nanti aku akan pergi, aku masih bisa melihat senyum dan tawa keluargaku. Sekuat apapun aku bertahan, aku yakin aku akan lelah. Aku yakin aku tidak akan bisa bertahan terlalu lama. Semua kenangan yang menyangkut diriku, aku ingin sekali mereka semua bisa melupakannya dengan cepat. Aku tidak mau membuat mereka ikut menderita. Cukup aku saja yang menderita. Mereka semua harus tersenyum apapun caranya. Bahkan, disaat terakhirku nanti, aku mau melihat senyuman mereka semua Tuhan.. karna hal itulah yang membuat aku kuat melangkah maju untuk hidup di kehidupan kedua nanti.

Jani, dialah adikku yang sangat aku sayangi. Jangan biarkan dia terlalu lama terlarut dalam kesedihan yang harusnya diakhiri dengan cepat ini Tuhan.. setelah waktunya tiba, biarkan aku menutup mata dengan bahagian dan sambil tersenyum menuju tempat terakhirku. Memang berat meninggalkannya tapi, ini sudah takdirku. Jika Engkau membuat senyum keluargaku, aku tersenyum Tuhan.. aku sayang mereka semua... :)
*****

Jakarta, 19 Januari 2012
*19 Januari, tepat disaat kakak berulang tahun dan saat seminggu kakak menderita penyakitnya yang mematikan. Kak, aku akan selalu tersenyum untukmu. :)